Setelah baca artikel di harvard bussiness review yang berjudul 9 Trends Shaping Work in 2026 and Beyond by Peter Aykens, Kaelyn Lowmaster, Emily Rose McRae and Jonah Shepp ada poin yang menarik yang ingin saya rangkum dengan bantuan chat gpt dan beberapa modifikasi pastinya, dan berikut yaitu adalah tentang AI yang merupakan bukan hanya mengubah cara kerja kita tapi juga cara manusia berpikir.
Transformasi AI saat ini hampir selalu dibahas dari sisi teknologi: otomatisasi, efisiensi, produktivitas, dan percepatan proses bisnis. Perusahaan berlomba-lomba mengadopsi Generative AI untuk meningkatkan performa organisasi dan daya saing.
Namun ada satu aspek besar yang justru sering luput dari perhatian:
bagaimana AI mengubah manusia yang menggunakannya.
Organisasi sangat fokus pada perubahan sistem kerja, tetapi jauh lebih sedikit yang fokus pada perubahan psikologis, kognitif, dan emosional karyawan sebagai manusia.
Adopsi AI: Cepat di Sistem, Lambat di Kesadaran
Generative AI kini sudah menjadi bagian dari workflow harian di banyak organisasi. Mulai dari penulisan dokumen, analisis data, pengambilan keputusan, layanan pelanggan, hingga perencanaan strategis.
AI tidak lagi hanya alat bantu —
ia sudah menjadi partner berpikir.
Namun penggunaan jangka panjang AI juga membawa konsekuensi serius:
- Ketergantungan berpikir (cognitive dependency)
- Penurunan kemampuan analisis mandiri
- Menurunnya critical thinking
- Kelelahan mental digital
- Distorsi pengambilan keputusan
- Kebingungan antara intuisi manusia dan rekomendasi mesin
- Penurunan kepercayaan diri dalam berpikir independen
Dalam kasus ekstrem, bahkan muncul fenomena seperti AI psychosis, di mana hubungan manusia dengan AI membentuk distorsi realitas dan perilaku.
Masalah Besarnya: Organisasi Tidak Mengukurnya
Perusahaan sangat rajin mengukur:
- Produktivitas
- Efisiensi
- Output
- KPI
- Performa sistem
- ROI teknologi
Tapi hampir tidak mengukur:
- Dampak psikologis
- Dampak kognitif
- Perubahan perilaku
- Ketahanan mental
- Kesehatan emosional karyawan akibat AI
Sebuah survei dari Gartner menunjukkan bahwa 91% CIO dan IT leader menyatakan organisasi mereka hampir tidak meluangkan waktu untuk memantau dampak perilaku dari penggunaan AI.
Artinya:
AI diukur sebagai sistem, bukan sebagai pengaruh terhadap manusia.
Dampaknya Bukan Hanya Mental Health, Tapi Bisnis
Dampak AI terhadap mental fitness karyawan bukan hanya isu kesejahteraan, tapi juga isu bisnis strategis:
Dampak jangka panjang:
- Produktivitas menurun
- Kualitas keputusan menurun
- Kreativitas melemah
- Kepemimpinan melemah
- Engagement karyawan turun
- Turnover meningkat
- Budaya kerja menjadi mekanistik
- Dehumanisasi kerja
Dalam jangka panjang, organisasi justru kehilangan keunggulan kompetitif manusia yang seharusnya diperkuat oleh AI.
Risiko Hukum yang Belum Disadari
AI juga menciptakan wilayah abu-abu tanggung jawab hukum:
Contoh skenario nyata:
- Karyawan mengikuti arahan AI → terjadi kesalahan fatal
- AI internal perusahaan memberi rekomendasi → karyawan bertindak → dampak negatif
- AI memengaruhi keputusan emosional → perilaku destruktif muncul
- Karyawan dipecat karena tindakan yang mengikuti guidance AI perusahaan
Lalu muncul pertanyaan besar:
Siapa yang bertanggung jawab?
Manusianya? Sistemnya? Atau organisasinya?
Sebagian besar risk assessment perusahaan hari ini belum memasukkan dimensi ini.
AI Tidak Netral terhadap Psikologi Manusia
Kesalahan besar banyak organisasi adalah menganggap AI sebagai alat netral.
Padahal AI:
- Membentuk pola pikir
- Memengaruhi cara mengambil keputusan
- Membentuk kepercayaan diri kognitif
- Menggeser locus of control
- Memengaruhi persepsi benar–salah
- Membentuk cara manusia memproses realitas
AI bukan hanya tool.
AI adalah lingkungan kognitif baru.
Masa Depan: AI Transformation Harus Menjadi Human Transformation
Organisasi masa depan yang sukses bukan yang paling cepat mengadopsi AI, tetapi yang paling matang mengelola dampaknya terhadap manusia.
Transformasi AI yang sehat harus mencakup:
1. Mental Fitness Strategy
Pendekatan sistematis untuk menjaga kesehatan mental, kognitif, dan emosional karyawan di era AI.
2. Cognitive Resilience
Pelatihan agar manusia tetap mampu berpikir kritis, mandiri, dan reflektif.
3. Ethical AI Governance
Aturan jelas tentang batas penggunaan AI dalam pengambilan keputusan.
4. Human-Centered AI Design
AI sebagai penguat manusia, bukan pengganti kesadaran manusia.
5. Behavioral Risk Management
Memetakan risiko psikologis, sosial, dan perilaku akibat AI.
Penutup: Teknologi Bisa Di-scale, Manusia Tidak
AI berkembang secara eksponensial.
Mental manusia tidak.
Jika organisasi hanya fokus pada:
- efisiensi
- kecepatan
- otomatisasi
- produktivitas
tanpa fokus pada:
- kesehatan mental
- ketahanan kognitif
- keseimbangan psikologis
- integritas manusia
maka AI tidak akan memperkuat organisasi —
ia akan melemahkannya secara perlahan dari dalam.
Karena masa depan kerja bukan hanya soal bagaimana sistem bekerja lebih cepat, tetapi juga bagaimana manusia tetap utuh di dalam sistem tersebut.
